Pengentasan Kemiskinan Melalui Social Preneur bagi Emak-emak Penerima PKH

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

BONEPOS.COM, BONE – Permasalahan kemiskinan menjadi sebuah fenomena sosial bagi tiap daerah dan terlebih bagi pemerintah pada umumnya.
Permasalahan tersebut menjadi hal kompleks terlebih di masa pandemi Covid-19 ini. Kemiskinan sebuah masalah yang kompleksitas, karena tidak hanya menyangkut persoalan ekonomi tetapi juga menyentuh ranah sosial dan budaya (Hasbi, et al, 2019).

Kemiskinan di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 masih cukup tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa per Maret 2018 jumlah penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 813.070 (9,26 persen) dari jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan keseluruhan sebanyak 8.771.970 jiwa, sekalipun dibanding data Maret 2016 mengalami peningkatan dalam jumlah.
Kemiskinan pedesaan pada kurun waktu Maret 2016 sampai dengan Maret 2018 mengalami peningkatan dari 807.030 ribu jiwa menjadi 813.070 ribu jiwa.
Sebagai bentuk pengentasan kemiskinan maka harus ada implementasi untuk memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.
Implementasi pengentasan kemiskinan dengan kegiatan pemberdayaan perempuan diharapkan menghasilkan sebuah inovasi dan pemikiran cemerlang yang dapat diwujudkan dalam kegiatan nyata dan secara tidak langsung memberikan dampak terhadap kehidupan keluarganya.
Pengentasan kemiskinan dengan memberdayakan emak-emak penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dengan mitra pendamping PKH yang dilaksanakan di Kecamatan Cina dengan didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), yang sekarang dinaungi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi (Ristek/BRIN).
Kegiatan ini pada umumnya lebih banyak terkonsentrasi pada tingkat desa, karena di tingkat desa, entitas kegiatan PKH menyentuh dan dirasakan langsung warga masyarakat.
Pelaksanaan pengabdian masyarakat yang dilakukan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Puangrimaggalatung dengan mitra PKH melalui kaum perempuan (emak-emak penerima bantuan PKH) dimulai dengan memberikan motivasi kewirausahaan, supaya tumbuh semangat untuk memulai wirausaha sebagai sebuah solusi dalam peningkatan penghasilan keluarga. Selanjutnya dilakukan pembinaan keterampilan social preneur sesuai dengan skala usaha yang dilaksanakan terutama terkait kebutuhan rumah tangga yang meliputi pembuatan sabun cuci, jajanan tradisional dan teknik menjahit untuk kegiatan konveksi.
Model kegiatan pada pengabdian masyarakat ini meliputi pengenalan social preneur, sharing, tanya jawab, diskusi dan praktik. Pada model pengenalan berwirausaha, narasumber memberikan materi terkait motivasi, manajemen kewirausahaan, manajemen keuangan dan strategi pemasaran produk yang dihasilkan. Narasumber juga memberikan materi disertai dengan sharing terkait berwirausaha dan dari semua emak-emak binaan, mereka belum memiliki pengalaman terkait bagaimana melaksanakan sebuah usaha. Pada model praktik, emak-emak binaan diwajibkan untuk menggunakan protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran Covid-19. Mereka diajarkan cara pembuatan sabun cuci, cara membuat jajanan tradisional yang digemari oleh pasar, dan teknik penjahitan untuk pelaksanaan usaha konveksi dengan menyediakan mesin jahit yang didanai oleh Kemendikbud dan Ristek/BRIN.
Pengabdian masyarakat melalui social preneur yang dilakukan ini sangat bermanfaat dan berdampak positif bagi emak-emak binaan, dalam hal ini UMKM ‘Ma’Barakka” yang dirintis emak-emak binaan pada saat pelaksanaan kegiatan ini, sangat antusias mengikuti setiap kegiatan pendampingan yang diberikan narasumber memiliki kompetensi di bidang tersebut.
Bagi UMKM ‘Ma’Barakka”, manfaat yang dirasakan sangat berdampak positif karena menghasilkan produk sendiri, memanajemen sendiri usahanya serta melakukan pemasaran melalui teknologi informasi, sehingga tampilan hasil produknya lebih bervariasi, menarik, akan tetapi tetap menjaga kualitas produk yang dihasilkan.
Sedangkan bagi mitra, kegiatan ini menjadi inspirasi dan motivasi dalam memanfaatkan potensi masyarakat sebagai penerima bantuan PKH. (Dr. Yusriadi, M.Si. (Ketua Tim Penyusun Pengabdian Masyarakat STIA Puangrimaggalatung Bone) – Dr. Awaluddin (Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIA Puangrimaggalatung/ril)
Sumber: bonepos.com

Baca Juga :  Pandemi Corona, PMI Berlakukan Sistem “Jemput Bola” 
Share.

Leave A Reply