Dukungan Paslon Independen Pilwakot Bandar Lampung Jauh dari Cukup

Lampung.co – Sukaraja, salah satu kelurahan di kecamatan Bumi Waras, Kota Tapis berseri, Bandar Lampung. Menurut monografi Kelurahan Sukaraja tahun 2013, kelurahan yang berhimpitan dengan teluk Lampung ini memiliki luas daerah sebesar 80,3 hektar.
Kawasan padat penduduk di pesisir teluk Lampung ini sebagian warganya bermata pencarian sebagai pelaku usaha perikanan, mulai dari nelayan sampai penjual ikan di pasar ikan Sukaraja. Bagi warga Sukaraja, nelayan ialah pekerjaan turun temurun dari tetua mereka terdahulu dan terus berkelanjutan hingga hari ini.

“Ya kalo nelayan memang sudah turun temurun, ya sampe hari ini masih (digeluti),” kata Maryudi, ketua Komunitas Nelayan Sukaraja (KNS), Kamis (16/7/2020).
Tak berbeda dengan daerah lain, Sukaraja sampai hari ini masih dibayangi masalah yang tak kunjung usai, masalah itu ialah Penanggulangan Sampah di kawasan pesisir atau bibir pantai.
Letak Geografis
Jika dilihat dari letak geografisnya, Kelurahan sukaraja berada diantara Teluk Betung dengan Panjang, tak hanya itu, daerah ini juga berhimpitan langsung dengan Teluk Lampung. Daerah pesisir Sukaraja yang mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan ini hanya bergantung dengan warga di lingkungan sekitar.
Kawasan Sukaraja merupakan kawasan padat penduduk, oleh karena itu, ada suatu keterikatan antara warga pesisir dengan penduduk sekitar dalam penjualan ikan. Meskipun saat hasil tangkapan melimpah, kadang bisa menjual hasil tangkapan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing.
“Konsumen yang beli ikan kan gak hanya warga sini aja, ada yang dari luar juga kesini, kalo tangkapan lagi rame mah, kami bisa kirim sampai TPI Lempasing,” ujar ayah tiga anak ini.
Laut Tercemar, Hasil Tangkapan Nelayan Turun
Kondisi laut yang kian memburuk tiap waktunya turut menjadi indikasi menurunnya hasil tangkapan nelayan. Hal ini dijelaskan oleh Yudi, mengingat kondisi laut yang makin tercemar ini berimplikasi menurunnya tangkapan mereka.
“Kami hanya melaut di sekitar sini saja, karena memang hanya daerah sekitar sini yang masih ada kemungkinan untuk dapat ikan,” ucap Yudi –sapaan akrab Maryudi.
Pantauan Lampung.co, sebagian nelayan yang menebar payang (alat tangkap ikan) hanya di sekitar daerah Sukaraja, payang ini ditebar beramai-ramai kemudian kembali ditarik oleh jumlah orang dalam tim, yang jumlahnya sekitar 4-6 orang.
Yudi menerangkan, tangkapan saat ini jauh dari kata cukup, jika dibanding tahun-tahun lalu, tangkapan saat ini jumlahnya tidak dapat diprediksi untuk jumlah tiap bulannya.
“Kalo dulu itu, kita masih ada musim-musim atau ketika bulan tertentu gitu, kita bisa prediksi akan banyak hasil tangkapan, tapi sekarang mah gak tentu, tapi memang menurun kalo dibanding dulu,” jelasnya.
Sampah dan Ancaman Banjir Rob
Yudi yang sedari lahir dan besar di daerah tersebut mengatakan bahwa ia dan masyarakat sekitar seakan sudah bersahabat dengan sampah, mengingat, tumpukan sampah ini menjadi pemandangan yang mau tak mau harus mereka lihat sehari-hari.
“Ya kalo dibilang terganggu ya pasti sangat terganggu, tapi ya kami ini bisa apa,” kata dia.
Dampak lain, masyarakat pesisir Sukaraja ini harus was-was akan ancaman meningkatnya pasang air laut atau banjir Rob yang mengancam mereka. Dari keterangannya, banjir ini dapat menggenangi sampai setinggi lutut orang dewasa.
“Air kalo naik itu bisa sampai masuk ke rumah, bahkan sampe setinggi lutut, tapi ini 5 tahunan, kalo perbulan ada, tapi tidak setinggi yang per 5 tahun ini,” ungkapnya.
Dikutip dari Lampost.co, banjir rob terakhir yang menerjang Sukaraja terjadi pada Kamis, 28 Mei 2020, efek dari banjir rob ini ialah tumpukan sampah berupa kantong plastik dan potongan kayu dari bibir pantai ‘menyerang’ rumah warga.
Walhi Lampung menyebut, permasalahan banjir rob di Sukaraja ini sudah pada tahap kronis dan akut, hal ini dapat berimbas buruk jika tidak ada penanganan yang strategis dari pemerintah kota Bandar Lampung.
Sampah Setebal tiga Meter, Apa Solusinya?
Sampah yang menumpuk di sekitar Pasar ikan Sukaraja ini dari keterangan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Lampung telah mencapai ketebalan sekitar 3 (tiga) meter dari permukaan. Menurut Yudi, sampah yang menumpuk ini sebagian besar berasal dari sampah rumah tangga masyarakat pesisir Sukaraja itu sendiri.
“Ya ini kan sampah masyarakat sekitar sini aja, pada buang kelaut, ya karena memang nggak ada petugas yang ambil, ya kalo ada petugas yang ambil Insha Allah bisa meminimalisir,” katanya.
Tumpukan sampah ini merupakan masalah menahun yang tak kunjung usai dibicarkan. Kata Yudi, sudah banyak pihak yang menengok akan masalah ini, namun hal itu dinilai hanya bentuk seremonial tanpa langkah konkrit.
Direktur Eksekutif WALHI Lampung, Irfan Tri Musri mengatakan bahwa pihaknya (WALHI) pernah diikutsertakan dalam movement yang diinisiasi oleh pemerintah kota Bandar Lampung pada tahun 2012 dan 2014.
“Kami pernah ikut dengan Pemkot (Bandar Lampung) sekitar tahun 2012 dan 2014, tapi itu tidak efektif menurut kami, karena kami konkrit dengan Pemkot dalam penanggulan sampah pesisir, namun rekomendasi kami belum dilirik,” kata dia, Jum’at (17/7/2020).
WALHI merekomendasikan Pemkot Bandar Lampung untuk membentuk Tim Satgas khusus yang berasal dari warga sekitar, berkaca dengan Tim Oranye di Provisi DKI Jakarta. WALHI menilai hal tersebut bisa lebih efektif dibanding dengan mengandalkan pihak ketiga.
Pemerintah Tampak Tak Mau Tau Harapan Warga
Belakangan diketahui, di kelurahan Sukaraja, khususnya pada pemukiman warga di bibir pantai, hanya memiliki satu tempat pembuangan sampah (TPS). “TPS di sini ya cuma ada satu, yang di depan itu, ya warga yang rumahnya jauh dari TPS kan terpaksa harus buang ke laut,” beber Yudi.
Tak terfasilitasinya petugas pengangkut sampah yang berkeliling pada rumah-rumah warga, menjadi indikasi maraknya praktik membuang sampah ke laut. Sementara jika pemerintah memfasilitasi petugas, masyarakat tak keberatan mengeluarkan biaya kebersihan.
“Ya pemerintah kalo mau warganya gak buang sampah ke laut, ya kasih petugas pengangkut sampahnya dong, jika harus bayar, masyarakat di sini pasti mau kalo bayar jasanya,” tegas Yudi.
Warga pesisir Sukaraja berharap, pemerintah kota Bandar Lampung bisa memberi perhatian serius dalam penangulangan sampah di pesisir Sukaraja, warga pun menyatakan kesediaannya jika harus turut membantu dalam penanganan masalah tersebut.
“Ya harapan kita ini mah sama, pemerintah serius aja nangani sampah ini, kami ini kan rakyat, kebijakan yang atur kan pemerintah, kami siap bantu,” demikian harapan seorang nelayan yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bandar Lampung, Ismed Saleh, menolak memberikan keterangan terkait hal ini saat ditemui di kantor DLH Bandar Lampung, Jum’at (17/7/2020).
“Pernah kasih statement tentang itu, tapi dibelokin sama media,” kata dia. (aaf)
Sumber: lampung.co

Baca Juga :  Siap-siap, Pemerintah Akan Cabut Subsidi Gas Melon

Leave A Reply