Refly Harun : Ancam Reshuffle, Bukti Jokowi Tertekan Karena Politik Akomodasi

Beritamedia.id – Kemarahan Presiden Jokowi terhadap kinerja para menterinya mendapat tanggapan yang positif dari berbagai pengamat. Namun tidak bagi Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun. Ia justru bingung, karena Kabinet kali lebih ‘gemuk’ dan seharusnya bisa lebih efektif menyelesaikan masalah.

“Mengenai reshuffle kabinet, di era kedua pemerintahan ini saya sesungguhnya agak heran.”

“Jokowi seolah-olah tertekan untuk mengadopsi sebanyak mungkin menteri,” terang Refly, seperti dikutip dari tayangan yang diunggah di kanal YouTube-nya, Senin (29/6/2020).

Portofolio kementerian maksimal 34 orang dijelaskan Refly sudah semuanya terisi. Bahkan ditambah lagi dengan adanya posisi wakil menteri di beberapa kementerian.

Ia pun tak yakin,  keberadaan wakil menteri akan  membuat pekerjaan menjadi lebih efektif. Justru menurutnya karena kebanyakan wakil menteri malah kontra efektif, karena ada dua nahkoda.

Refly juga menyoroti sumber rekruitmen dalam pemilihan menteri yang berdasarkan pada dua pertimbangan.

Pertama adalah orang yang dipilih langsung oleh Jokowi, kedua adalah orang yang direkomendasikan atau diikat oleh partai politik.

Sedikit flashback, pemilihan presiden 2019 lalu, ada 6 partai yang mendukung Jokowi, yakni PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP dan Hanura. Semua partai pendukung itu, masing-masing mendapatkan jatah kursi menteri, kecuali Hanura.

Selain dari partai politik, Refly mengingatkan jika Jokowi juga mengakomodasi tim relawan yang menyukseskan kampanye Jokowi.

“Ada juga wakil-wakil menteri untuk partai politik pendukung lainnya di luar enam pendukung utama itu.”

“Termasuk juga staf-staf khusus, jadi sebenarnya banyak sekali pembantu-pembantu dalam periode kedua jabatannya,” ujar Refly.

Meski memiliki banyak pembantu, namun menurut Refly, kinerja yang dianggap tidak efektif itu disebabkan karena Jokowi tidak menerapkan sistem presidensial.

Baca Juga :  Jokowi Perkenalkan Produk Kesehatan Terkait Corona Karya Anak Bangsa

“Tapi kok kinerjanya merasa tidak efektif? Ya karena satu hal, tidak mempraktekkan sistem presidensial,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, kelebihan dari sistem presidensial adalah memberikan keleluasaan kepada presiden untuk mencari pembantu-pembantunya.

“Tapi terlihat pada periode kedua ini kok malah tambah didekte oleh partai-partai pendukungnya, padahal di periode pertama jauh lebih baik,” ungkap Refly.

Leave A Reply