Wali Kota: Tangkap yang Keluyuran!

 SAMARINDA KOTA. Karena pekerjaannya yang tidak bisa dikendalikan dari rumah, Darsiah (36) tetap bepergian ke kantor saban hari. Meski di kantor, physical distancing diterapkan dengan ketat. Namun dia miris ketika pulang kantor setiap sore, dirinya selalu dihadapkan pada jalan yang sedikit macet menjelang berbuka puasa. Di jalan dia juga menemukan kelompok orang yang bersepeda. Ada yang berlari, ada pula sekadar kumpul-kumpul di taman kota.Ya, sebuah paradoks terjadi di Samarinda. Di saat kota ini ditetapkan sebagai zona merah, saat itulah pulalah aktivitas masyarakat seolah kembali normal. Jalan-jalan mulai kembali ramai. Apalagi menjelang waktu berbuka puasa.Kebijakan menutup Pasar Ramadan justru membuat pasar-pasar dadakan di tepi jalan semakin ramai. Padahal sekarang merupakan masa memasuki puncak penyebaran Covid-19.Dengan jumlah 16 pasien positif dan belasan lainnya berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP), per 28 April, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang memang belum terpikirkan untuk mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ke pemerintah pusat. Kendati begitu, bukan berarti masyarakat tetap bisa keluyuran seenaknya tanpa protokoler kesehatan yang ketat. Apa perlu aparat di Samarinda layaknya polisi di India yang dipersenjatai dengan rotan?Jaang pun mengaku miris, lantaran banyak masyarakat yang menyepelekan anjuran social distancing dan physical distancing. Jika PSBB tak diajukan, apa Jaang terpikirkan untuk menerapkan jam malam di Samarinda?“Bukan soal jam malam yang perlu ditekankan. Tangkap saja kalau masih banyak yang berkerumun di luar,” tegas Jaang kepada media ini, kemarin (29/4).Orang nomor satu di Samarinda ini, menekankan bahwa sebenarnya sejumlah aparat selama ini terus berpatroli. Karena itu, jika hal itu diterapkan, secara tidak langsung kebijakan jam malam sudah berjalan. Meski saat ini, diakui Jaang, masih banyak yang “mucil” keluyuran keluar rumah, khususnya di malam hari.“Saya sudah keras mengingatkan, jangan main-main dengan korona,” tegasnya.Tak heran ia pun meminta tim yang terlibat dalam patroli malam lebih tegas lagi. Bahkan ia menyarankan agar untuk menahan kendaraan, bagi pihak yang masih mucil berkeliaran di jalan.“Kalau tidak ada kepentingan tangkap saja. Kalau kantor polisi tidak cukup, buka lapangan, tahan kendaraannya di situ, ” jelasnya.Selain kerumunan orang, Jaang juga menyoroti komunitas sepeda yang masih aktif berkeliaran. Menurutnya, tidak ada alasan untuk beraktifitas di luar, kecuali benar-benar penting.“Itu juga yang bersepeda, tidak usah lah keluar dulu. Kecuali benar-benar penting. Kita tidak tahu siapa yang membawa virus. Makanya kurangi aktivitas di luar, ” beber Jaang.Kepala Dinas Kominfo Kota Samarinda, Aji Syarif Hidayatullah sepakat dengan atasannya tersebut. “Belum ada pembicaraan ke arah itu (jam malam),” kata Dayat Sapaan akrabnya.Menurut Dayat —sapaan akrabnya— setiap kebijakan atau apa-apa yang menjadi kesepakatan dalam rapat Forkopimda yang dipimpin wali kota akan diberitahukan dulu ke Gubernur Kaltim, Isran Noor.“Mungkin jika kondisi semakin memburuk barulah ada opsi jam malam diberlakukan. Tapi sebelumnya diajukan dulu ke Gubernur,” kata Dayat.BPBD SIAP BATASI KENDARAANSekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Hendra AH sebenarnya setuju dengan penerapan jam malam. Karena memang masih banyak warga berkumpul dalam jumlah banyak, bahkan hingga dini hari.Hendra mengaku sudah sebulan berkeliling untuk memberikan imbauan ke warung, cafe, lapak pinggir jalan, pasar malam hingga warnet. Tapi terkadang, kata Hendra, satu lokasi diberi pengarahan dan mematuhi, namun lokasi lain yang sebelumnya menurut, justru bandel lagi. “Ini yang menjadi dilematis kami dilapangan,” kata Hendra.Kendati begitu, apapun keputusan pemerintah, kata Hendra, pihaknya siap menjalankan termasuk membatasi kendaraan yang berbedar. “Kita siap apapun istilahnya,” terangnya.48 Warga TerjaringBukti bahwa minimnya kesadaran masyarakat mematuhi social distancing/physical distancing terlihat dari hasil operasi yang dilakukan tim Penanganan Covid-19 Samarinda di sejumlah titik, dini hari kemarin (29/4).Kegiatan itu menyasar sejumlah tempat yang sebelumnya telah dipantau Gugus Tugas. Beberapa tempat itu disinyalir merupakan tempat berkumpulnya warga khususnya remaja.Hasilnya sebanyak 48 warga dari yang remaja hingga dewasa terjaring. Mereka ada yang diangkut dan ada pula yang kartu identitasnya disita. Selanjutnya yang diangkut dibawa ke Posko Induk Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Samarinda di markas BPBD Samarinda di Jalan Sentosa Dalam, Kecamatan Sungai Pinang.“Yang kartu identitasnya seperti KTP disita, kami minta datang ke Posko,” kata Hendra.Hendra menjelaskan, 48 warga itu didapati dari sejumlah tempat seperti warung kopi di Jalan Belatuk, kafe-kafe di Jalan M Yamin, Komplek GOR Segiri, warnet di Jalan Gatot Subroto, dan komplek pertokoan di Citra Niaga.“Kami juga sempat bersitegang dengan beberapa pemilik kafe dan pengunjungnya,” ujar Hendra.GUBERNUR DUKUNG PSBBJika Samarinda belum terpikirkan mengajukan PSBB, Gubernur Kaltim Isran Noor justru mendukung langkah Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi yang mengusulkan PSBB ke pemerintah pusat.“Kalau sudah memenuhi syarat, kita dukung,” kata Isran, Selasa (28/4) lalu.Dalam rapat koordinasi (Rakor) Covid-19 yang dipimpin Isran pada 16 Maret lalu menegaskan bahwa pola PSBB yang sekarang diterapkan di sejumlah daerah, sama dengan konsep yang ia tawarkan untuk Kaltim ketika itu.Ketika itu, Isran menyebut istilah Local Lockdown. Sehari setelah rakor yang dihadiri sejumlah unsur pimpinan lembaga tinggi di Kaltim itu, kebijakan ini seharusnya sudah diterapkan. Namun pemerintah pusat meminta kepada daerah untuk tidak memutuskan persoalan pembatasan sosial.“Tempo hari tiada lain agar terjadi pembatasan orang keluar masuk Kaltim, sehingga kemungkinan penambahan korban korona bisa dicegah sedini mungkin,” ungkapnya.Isran meminta tim Gugus Tugas Percepatan Pemberantasan (GTP2) Covid-19 Kaltim, terus meningkatkan koordinasi dengan kabupaten/kota terutama dalam penanganan pasien, distribusi alat pelindung diri (ADP) serta penyaluran bantuan sosial.Dirinya juga meminta masyarakat yang dirawat karena Covid-19 dirawat dengan baik sesuai standar kesehatan.“Pastikan mereka dirawat dengan baik, tidak perlu memikirkan biaya perawatan,” ulasnya.Demikian pula tenaga kesehatan yang dilibatkan, kata Isran, harus benar-benar diperhatikan kesejahteraannya. Termasuk mendapat serta menggunakan ADP yang standar.TAMBAH 3 POSITIF, 15 PDPKesadaran warga Samarinda untuk tetap menerapkan social disancing seharusnya semakin tinggi. Karena berdasarkan rilis yang disampaikan Dinas Kesehatan Kaltim, kembali terjadi penambahan pasien positif Covid-19 di Kota Tepian.Per kemarin di Samarinda terdapat 3 tambahan dari total 4 kasus baru di Kaltim. Sehingga total kasus positif di Kaltim menjadi 119 dan 19 di antaranya berasal dari Samarinda.Plt Kepala Dinkes Kaltim, Andi M Ishak menjelaskan, dua dari 3 kasus positif di Samarinda merupakan dari klaster Gowa. Yakni laki-laki berusia 70 tahun dan 33 tahun. Keduanya dirawat di RSUD Abdul Wahab Syahranie sejak 9 April. Sedangkan satu kasus lainnya, juga laki-laki berusia 25 tahun berkode SMD19. Sebelum dirawat di RS Karantina Bapelkes sejak 29 April, SMD19 sempat dirawat di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti (ABADI), Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar) sejak 13 April.Sedangkan satu kasus lainnya di Kaltim merupakan perempuan 44 tahun yang sempat kontak erat dengan pasien KTM1 klaster Gowa.Sementara itu, dari penambahan 33 PDP di Kaltim, 15 di antaranya dari. Sebagian diisolasi di RS Karantina. “Dari 15 itu ada yang baru pulang dari Jepang dan AS, tapi sebagian besar klaster Gowa,” katanya. (hun/kis/oke/mrf/nha)
Sumber: Samarinda Pos

Baca Juga :  Bangsal di Puncak Bukit Jadi Arang

Leave A Reply