Pasien Covid-19 Melarikan Diri

SAMARINDA KOTA. Kaburnya seorang pria berinisial HM (31), pasien Covid-19 membuat geger warga Kota Samarinda. HM sebelumnya telah menjalani dua kali rapid test dengan hasil reaktif dan satu kali uji swab. HM diduga meninggalkan Samarinda sejak 24 April lalu. Padahal HM harusnya menjalani masa isolasi (karantina) sembari menunggu hasil swab kedua.Hasil swab kedua keluar pada Sabtu (25/4) atau sehari setelah HM meninggalkan Kota Tepian. Pihak Dinas Kesehatan Kaltim akhirnya mencantumkan HM dalam deretan enam kasus terkonfirmasi positif korona di Samarinda dengan kode SMD25.Entah takut atau enggan menjalani masa karantina, pasien SMD25 ini justru tidak kooperatif dan tidak mengindahkan permintaan tim dokter. HM disebut berada di Surabaya dan tengah diburu tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat.Plt Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih membenarkan tidak kooperatifnya pasien SMD25 tersebut.Ismed menjelaskan dari awal pemeriksaan rapid test hingga keluarnya hasil swab, pasien SMD25 memang tidak kooperatif. SMD25 enggan mengikuti prosedur tetap (protap) yang telah ditetapkan untuk mengikuti karantina.“Dari awal pasien SMD25 ini memang bandel dan tidak menurut arahan kami. Dia tidak pernah mau dirawat, baik di rumah sakit rujukan maupun rumah sakit karantina,” kata Ismed, Minggu (3/5).Harusnya, ujar Ismed, jika pasien sudah dinyatakan reaktif hasil rapid test terlebih positif hasil uji swab, maka sesuai protap pasien tersebut wajib menjalani masa karantina.Dilanjutkan Ismed, pasien SMD25 terpapar virus korona saat melakukan perjalanan ke Surabaya beberapa waktu lalu. Setibanya di Samarinda, pasien SMD25 sempat memeriksakan diri ke dokter spesialis pada 17 April, dan melakukan uji lab pada hari berikutnya. Pada 20 April, pasien tersebut melakukan rapid test di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) dan hasilnya reaktif.Pengambilan sampel swab tenggorokan dilakukan pada 23 April lalu di RS Karantina Covid-19 Gedung Bapelkes Kaltim Jalan Wolter Monginsidi, Kecamatan Samarinda Ulu. Saat itu pula pasien SMD25 langsung diminta untuk diisolasi di rumah sakit darurat tersebut namun menolak. SMD 25 berdalih ingin isolasi mandiri.Ismed sangat menyayangkan sikap pasien SMD25. Perilaku pasien yang seperti ini, menurutnya, bisa mempercepat Samarinda menjadi daerah dengan transmisi lokal. Ketika memang harus karantina, apalagi statusnya positif, tapi melakukan perjalanan kemana-mana.“Perilaku seperti ini yang bisa mempercepat terjadinya transmisi lokal di Samarinda. Dan inilah yang tengah kami pikirkan bagaimana mengatasi jika hal ini sampai terjadi,” terang Ismed.Sementara itu, dr Ery Wardhana, salah seorang dokter Tim Surveillance Pusat Karantina Covid-19 Samarinda menambahkan, saat ini pihaknya tengah berkonsentrasi menyelesaikan masalah yang SMD25 tinggalkan.”Kami tengah fokus melakukan pelacakan dengan siapa SMD25 melakukan kontak, kemudian melakukan pemeriksaan dan jika memang diharuskan dilakukan isolasi jika ada yang positif kontak langsung dengan SMD25 ini,” terang Ery.Selain fokus pada pelacakan, pihaknya baru saja mendapat informasi jika SMD25 saat ini berada di Jakarta pada 27 April lalu. Informasi ini didapat dari rekannya.“Ya beginilah pasien SMD25 ini, pengakuan dan keterangannya selalu berubah-ubah. Namun demikian tetap kami koordinasi dengan tim Covid-19 baik di Surabaya dan Jakarta,” tutup Ery.PASIEN MENGAMUKPasien terkonfirmasi positif covid-19 dengan kode SMD8 seperti tak ada habisnya membuat kehebohan. Setelah sebelumnya mengamuk di RSUD AW Sjahranie pada 8 April 2020 Lalu, kini SMD8 kembali berulah dengan membuat keresahan di lingkungan RSUD IA Moeis, tempat dia diisolasi.Ya, SMD8 atau pasien positif korona berinisal N (35) mengamuk di ruang isolasi RSUD IA Moeis. Dari informasi N memukul salah seorang petugas jaga rumah sakit yang tengah bertugas di ruang isolasi dirinya ditempatkan hak ini juga membuat takut para perawat di ruangan tersebutKontan saja, tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan N kepada salah satu karyawan rumah sakit ini berbuntut panjang. Pihak rumah sakit akhirnya melapor kepada tim gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kota Samarinda, pada Minggu (3/5) pagi.Sekitar pukul 09.00 Wita tim yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Samarinda, Dinas Kesehatan Kota Samarinda dan unsur TNI-Polri tiba di rumah sakit.Tim datang ke RSUD IA Moeis untuk melihat kondisi yang bersangkutan. Saat menjalani perawatan di RSUD IA Moeis, N memang sering meminta pulang dan diduga mengalami depresi lantaran kondisi kesehatannya yang telah terinfeksi covid-19.Selang satu jam melakukan pembicaraan baik dengan pihak rumah sakit, petugas yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap segera membawa N.“Atas permintaan pihak rumah sakit dan juga Dinas Kesehatan Kota kami melakukan penjemputan terhadap N. Dan alhamdulillah hasil pendekatan N cukup kooperatif dan mau dievakuasi,” kata Sekretaris BPBD Kota Samarinda, Hendra AH.Proses evakuasi berjalan singkat, N yang sejak awal ditemani istrinya F nampak menaiki mobil ambulans yang telah disiapkan dengan pengawalan ketat. Beberapa barang bawaan seperti pakaian juga dimasukkan ke dalam mobil ambulans.Ditambahkan Hendra, proses penjemputan dan pemindahan N bukan kali pertama dilakukan, pada 11 April 2020 lalu, N dijemput tim gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dikediamannya setelah memaksa pulang dari RSUD AW Sjahranie pada 8 April 2020.Hasil negosiasi saat itu, N mau dievakuasi jika istrinya F ikut mendampinginya. Syarat ini disetujui tim saat itu dan selanjutnya N dipindahkan ke ruang isolasi RSUD IA Moeis.Selang sepekan berada di ruang isolasi RSUD IA Moes atau tepatnya 18 April 2020, N kembali berulah dengan berteriak sehingga mengganggu pasien lain.“Kemungkinan besar N ini mengalami depresi selama menyandang positif korona dan istrinya pun sudah tidak tahu lagi cara menenangkan suaminya ini,” ungkap Hendra.Dikonfirmasi terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih mengungkapkan, pasien SMD8 selanjutnya akan ditempatkan di ruang isolasi RS Karantina Covid-19 Gedung Bapelkes Kaltim, Jalan Wolter Monginsidi, Samarinda Ulu.”N selanjutkan menempati ruang mess kedua sisi sebalah kanan. Di ruang khusus ini tekah dilengkapi jeruji besi di jendela dan jeruji besi di jendela pintu,” ungkap IsmedSeelanjutnya kata Ismed, pihaknya akan melakukan assement ulang terhadap N. Tak hanya itu pihak Dinkes akan melakuoan tes kejiwaan pada N.“Psikolog kami siapkan di RS karantina dan jika perlu kami akan menyiapkan psikiater untuk memeriksa kondisi kejiwaaannya,” pungkas Ismed. (kis/beb)
Sumber: Samarinda Pos

Baca Juga :  “Yang Bukan Zona Merah, Silakan Tetap ke Masjid”

Leave A Reply