“Ngamuk”, Napi Asimilasi Ditembak

Aksi kejahatan Lolok setelah dibebaskan1. 15 April 2020 mencuri 2 unit HP di Jalan Panjaitan, Tenggarong2. 29 April 2020, diduga menikam warga Loa Duri Ulu.3. 1 Mei 2020 pencurian disertai penikaman di Jalan Belida, Tenggarong. TENGGARONG. Muhammad Sailillah alias Lolok (27) harus merasakan sebutir peluru bersarang di kaki kirinya. Tim Alligator Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Kukar terpaksa mengambil tindakan tegas dengan menembak Lolok.Warga Jalan Swadaya, Desa Bakungan, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini, ditangkap pada Rabu (6/5) malam, setelah diduga melakukan aksi pencurian dengan kekerasan (Curas) dan pencurian dengan pemberatan (Curat).Sebelum ditangkap, Tim Alligator Polres Kukar sudah melakukan pengejaran terhadap Lolok beberapa hari terakhir. Lalu Tim Alligator menemukan terduga pelaku di bilangan Jalan Loa Ipuh, Tenggarong. Begitu digeledah, Lolok kedapatan membawa senjata tajam (sajam) berupa sebilah badik. Saat itulah, Lolok berusaha kabur. “Tim Alligator terpaksa menembak kaki kiri Lolok, setelah tembakan peringatan tidak dihiraukan,” ungkap Kapolres Kukar AKBP Andrias Susanto Nugroho melalui Kepala Satuan (Kasat) Reskrim AKP Andika Dharmasena, Kamis (7/5).Memang selama beberapa pekan terakhir, Tim Alligator Sat Reskrim Polres Kukar dipimpin Ipda Sang Made Satria, terus memburu Lolok. Pasalnya, penjahat spesialis rampok maupun maling alias pencuri tersebut, belakangan “ngamuk” di sejumlah lokasi di wilayah hukum Polres Kukar. Beberapa korban juga dilukai Lolok.Kata Andika Dharmasena, ada beberapa korban telah melapor. Seperti 15 April 2020 Lolok mencuri 2 unit HP milik warga Jalan Panjaitan, Tenggarong. Selanjutnya 29 April 2020, Lolok diduga menikam seorang korban di Loa Duri Ulu. Terakhir, 1 Mei 2020 ada lagi pencurian disertai penikaman terhadap korbannya di Jalan Belida, Tenggarong. “Sebilah badik biasa digunakan Lolok beraksi, sudah disita sebagai barang bukti,” jelas Sena, demikian Kasat Reskrim Polres Kukar ini biasa disapa.Ya, nama Lolok bukan asing bagi polisi. Pria muda tersebut sejak beberapa tahun terakhir telah malang-melintang melakukan kejahatan di wilayah Kukar maupun Kota Samarinda. Dia tercatat sudah 10 kali masuk penjara. Bahkan belum lama ini Lolok dibebaskan karena mendapatkan asimilasi terkait Covid-19 alias virus korona, ketika menjalani hukuman di Lapas Samarinda. Dia dibebaskan pada pertengahan April lalu.Kebijakan Asimilasi dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Hukum dan HAM (Kemnkum HAM) Republik Indonesia Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak Melalui Asimilasi.Tujuannya untuk mengurangi kepadatan warga binaan dalam penjara. Hal ini dilakukan demi mencegah penularan Covid-19 di dalam penjara. Kebijakan ini sempat menuai pro-kontra di kalangan masyarakat. Namun, mereka yang mendapatkan asimilasi harus memeliki beberapa syarat. Di antaranya telah menjalani sepertiga masa tahanan dan bukan dari kasus korupsi dan narkoba.Untuk diketahui, sebanyak 207 warga binaan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) di Kota Tepian telah menghirup udara bebas. Terdiri atas 97 narapidana dari Lapas Klas IIA Samarinda dan 38 narapidana Lapas Narkotika Klas IIA Samarinda serta 77 narapidana dari Rutan Klas IIA Samarinda. Lolok sendiri termasuk napi yang dibebaskan dari Lapas Samarinda.Dilepaskannya sejumlah residivis itu membuat khawatir dan ketakutan di tengah masyarakat. Karena itu, sebagai langkah antisipasi Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Damus Asa saat itu mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan rutan dan dua lapas di Samarinda. Daftar napi yang mendapatkan asimilasi juga telah dikantongi.“Kami sudah ada koordinasi dan diberikan data para napi untuk mempermudah pengawasan. Kami akan monitoring pergerakannya (napi),” ucap perwira menengah melati satu itu.Disinggung soal pengawasan utama berdasarkan catatan kasus napi, Damus menerangkan akan melakukan fungsi pengawasan secara merata. Untuk mempermudah pengawasan, pihaknya juga akan berkoordinasi lebih dalam dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) yang juga melakukan pengawasan secara rutin.“Kalau kembali bertingkah yah kami kenakan sesuai pasal perbuatannya, asimilasinya tidak berlaku jadinya. Untuk urusan adanya isolasi dan penambahan masa tahanan, nanti itu urusan Kemenkumham atau lapas dan rutan,” pungkasnya.Sementara itu, Lolok yang ditemui media ini mengaku terpaksa kembali berbuat jahat.“Saya terpaksa begini (mencuri dan merampok, Red) karena tidak punya pekerjaan lain,” ujar Lolok sembari meringis, menahan perih akibat luka tembak di bagian kaki sebelah kiri. (idn/nha)
Sumber: Samarinda Pos

Baca Juga :  Rumah Dijarah hingga Ambruk

Leave A Reply